Setelah beberapa kali bertemu, baru kemarin saya bisa ngobrol dekat dengan salah satu calon Wagub Kalimantan Timur. Obrolan kita bukan masalah politik, bukan masalah kerja juga bukan masalah ekonomi. Masalah yang kami obrolkan waktu itu adalah masalah yang ringan, tapi luput dari perhatian kita selama ini. Kunci hidup bahagia.
Ada sebuah keluarga. Si Istri cantik, postur badannya bagus, kulitnya bersih, penampilannya sederhana tapi menarik. Sedangkan si suami kebalikkannya (maaf) jelek, kesannya seperti orang kampung, pendek, pokoknya tidak menarik. Tapi dalam keseharian mereka, banyak orang yang mengatakan bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Kebahagiaan mereka bukan karena harta berlimbah ataupun karir yang cemerlang. Pertanyaannya apa yang membuat mereka hidup bahagia.
Bicara mengenai kecantikkan istri dan kejelekkan suami, ternyata ada satu kunci hidup mereka bahagia. Ternyata suami begitu mensyukuri jodoh yang dia dapat. Cantik, baik, penampilannya menarik. Sedangkan si istri sabar dengan jodoh yang dia dapat dan sekaligus mensyukuri. Meski banyak orang yang menyayangkan pilihan pasangan, ternyata dibalik kejelekkannya, sang suami adalah orang yang setia, penyayang, rajin beribadah, dan punya rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Tidak ada kata malu, menyesal bahkan terpaksa.
Membahas masalah harta, istri merasa bersyukur karena ternyata setelah sekian lama berkeluarga akhirnya sebuah rumah mungil dan sederhana berhasil dimiliki. Meski tidak berada di real estate, tapi rumah itu tidak kalah soal design dibanding dengan rumah rumah dikomplek perumahan mewah. Sedangkan suami bersabar, karena pembuatan rumah itu menggagalkan dia untuk membeli sebuah mobil second yang telah lama diinginkan. Tapi suami tetap bersyukur, ternyata lebih baik hidup didalam rumah daripada hidup didalam mobil. Dan ternyata sepeda motor butut lebih gesit ketika jalanan macet.
Soal karir, suami bersyukur meski hanya seorang staff biasa, tapi fasilitas dan kemudahan yang dia dapat lebih dari staff yang lain. Itu karena dia tidak pernah menuntut seperti staff yang lainnya. Si istri tetap bersabar dengan karir suami. Karena ternyata dalam arisan ibu ibu, sering kali dia dengar keluhan ibu ibu yang punya suami dengan karir yang melesat, malah sering tidak ada dirumah. Sering tidak bisa menemani ketika anak sakit dan harus ke dokter. Dan ternyata meski dengan karir yang ada, istri tidak pernah merasakan kekurangan uang bulanan. Bahkan tahun dia sudah ada dana untuk naik haji.
Obrolan kami sore itu kami tutup dengan menikmati secangkir teh manis dan sepotong pisang goreng. Meski hanya secangkir teh manis dan sepotong pisang goreng, tapi kami berdua bersyukur. Ternyata kami berdua masih bisa merasakan enaknya teh dan pisang goreng dengan suasana hotel.
Belajarlah bersabar dengan apa yang kau dapat dan bersyukur dengan yang telah kau terima. Semoga kita bisa menjadi orang sabar dan bisa bersyukur.
