Bahan RenunganAugust 30, 2008 2:30 am

Setelah beberapa kali bertemu, baru kemarin saya bisa ngobrol dekat dengan salah satu calon Wagub Kalimantan Timur. Obrolan kita bukan masalah politik, bukan masalah kerja juga bukan masalah ekonomi. Masalah yang kami obrolkan waktu itu adalah masalah yang ringan, tapi luput dari perhatian kita selama ini. Kunci hidup bahagia.

Ada sebuah keluarga. Si Istri cantik, postur badannya bagus, kulitnya bersih, penampilannya sederhana tapi menarik. Sedangkan si suami kebalikkannya (maaf) jelek, kesannya seperti orang kampung, pendek, pokoknya tidak menarik. Tapi dalam keseharian mereka, banyak orang yang mengatakan bahwa mereka adalah keluarga bahagia. Kebahagiaan mereka bukan karena harta berlimbah ataupun karir yang cemerlang. Pertanyaannya apa yang membuat mereka hidup bahagia.

Bicara mengenai kecantikkan istri dan kejelekkan suami, ternyata ada satu kunci hidup mereka bahagia. Ternyata suami begitu mensyukuri jodoh yang dia dapat. Cantik, baik, penampilannya menarik. Sedangkan si istri sabar dengan jodoh yang dia dapat dan sekaligus mensyukuri. Meski banyak orang yang menyayangkan pilihan pasangan, ternyata dibalik kejelekkannya, sang suami adalah orang yang setia, penyayang, rajin beribadah, dan punya rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Tidak ada kata malu, menyesal bahkan terpaksa.

Membahas masalah harta, istri merasa bersyukur karena ternyata setelah sekian lama berkeluarga akhirnya sebuah rumah mungil dan sederhana berhasil dimiliki. Meski tidak berada di real estate, tapi rumah itu tidak kalah soal design dibanding dengan rumah rumah dikomplek perumahan mewah. Sedangkan suami bersabar, karena pembuatan rumah itu menggagalkan dia untuk membeli sebuah mobil second yang telah lama diinginkan. Tapi suami tetap bersyukur, ternyata lebih baik hidup didalam rumah daripada hidup didalam mobil. Dan ternyata sepeda motor butut lebih gesit ketika jalanan macet.

Soal karir, suami bersyukur meski hanya seorang staff biasa, tapi fasilitas dan kemudahan yang dia dapat lebih dari staff yang lain. Itu karena dia tidak pernah menuntut seperti staff yang lainnya. Si istri tetap bersabar dengan karir suami. Karena ternyata dalam arisan ibu ibu, sering kali dia dengar keluhan ibu ibu yang punya suami dengan karir yang melesat, malah sering tidak ada dirumah. Sering tidak bisa menemani ketika anak sakit dan harus ke dokter. Dan ternyata meski dengan karir yang ada, istri tidak pernah merasakan kekurangan uang bulanan. Bahkan tahun dia sudah ada dana untuk naik haji.

Obrolan kami sore itu kami tutup dengan menikmati secangkir teh manis dan sepotong pisang goreng. Meski hanya secangkir teh manis dan sepotong pisang goreng, tapi kami berdua bersyukur. Ternyata kami berdua masih bisa merasakan enaknya teh dan pisang goreng dengan suasana hotel.

Belajarlah bersabar dengan apa yang kau dapat dan bersyukur dengan yang telah kau terima. Semoga kita bisa menjadi orang sabar dan bisa bersyukur.

Bahan RenunganAugust 23, 2008 5:42 am

Dulu …… saya pernah punya keinginan bikin sinetron. Tapi sinetron beda dengan sinetron yang pernah ada. Kalau selama ini kita selalu disuguhi sinetron "Jelek", saya akan buat kebalikkanya. Yang sering kita tonton kalau tokohnya koruptor, pasti dia suka perempuan, sukan dugem, tidak memperhatikan keluarga dan lain lain yang jelek. Di sinetron saya nanti, kalau ada koruptor, paling tidak dia masih punya hati pada fakir miskin. Kalau ada tokoh yang punya prinsip hidup bebas, paling tidak dia tidak mau sex bebas. Kalau ada orang jahat, paling tidak dia sangat cinta dengan istri dan anak anaknya. Kalau ada orang miskin, paling tidak dia tidak akan mau harga dirinya diinjak injak. Kalau ada guru menjual buku ke siswanya, paling tidak uangnya untuk tambahan sumbangan karena penjaga sekolah sakit.

Pertanyaanya  ….. apa mau saya ? Pertama saya mau tunjukkan kalau kulitnya hijau, tidak selalu isinya juga hijau. Kedua kalau kita selalu menyorot seseorang dari kekurangannya, kita tidak pernah tahu kelebihan orang tersebut. Kalau kita selalu membicarakan kejelekkan orang, kita tidak tahu kebaikkan orang itu. Kalau kita selalu membahas negatifnya seseorang, kita tidak akan tahu kalau orang punya banyak hal positif yang dapat kita tiru. Semoga kita menjadi orang baik dan tahu akan kebaikkan orang lain.

Kalau anda mau, saya mengajak anda untuk belajar BAIK (komentar, pendapat dan masukkan)

Bahan Renungan 5:26 am

Selama 2 minggu bersama sama dengan kesebelasan PON Jatim banyak hal menarik yang mungkin tidak banyak diketahui orang lain. Dimulai dari akomodasi yang mereka pilih. Menempati sebuah rumah di Jl. Merak dengan 5 kamar dan sebuah kamar mandi adalah sesuatu yang sempat membuat kaget. Dan yang membuat lebih kaget lagi, ketika mereka tiba di Samarinda. Tidak ada satu keluhan yang keluar dari mulut para pemain. Dengan senang hati mereka menerima pembagian kamar, dimana masing masing kamar diisi 4-5 orang. Para pelatih dan official menempati kamar yang sama dengan pemain. Dalam rombongan juga ada 2 orang perempuan, yang ternyata adalah tukang masak mereka. Iseng iseng saya tanya ke Aji Santoso,” kog anak anak tidak protes ya mas”. “Tidak akan protes mas, itu kan tergantung pimpinannya”, jawab Aji ke saya. Kalau pimpinannya merasakan sama dengan mereka, pasti mereka tidak protes. Hari itu pelajaran baru untuk saya TERGANTUNG PEMIMPINNYA.
Hal menarik berikutnya yang saya dapat adalah ketika akan melawan PON DKI Jakarta. Pagi itu ketika saya berkujung ke mess, kebetulan ada meeting evalusi. Karena saya sudah dianggap bagian dari team, saya bisa ikut evaluasi tersebut. Salah satu pengurus PSSI Jatim waktu itu marah besar. Satu komentar yang sempat saya ingat waktu itu adalah, kalau kalah semua pulang naik kapal dan menunggu jadwal kapal yang ada. Saya bertanya dalam hati, itu kalau kalah, terus kalau menang ? Tapi pertanyaan saya tidak terjawab sampai meeting selesai. Dan pemain tidak ada yang bertanya. Iseng iseng saya sentil kesalah satu pemain setelah itu. Jawaban mereka kembali lagi membuat saya tercengang. “ Tanpa kami tanyakan dan tanpa disampaikan, pimpinan kita sudah tahu”.  Dan itu terbukti, ketika menang melawan PON DKI, mereka semua dapat bonus, tanpa terkecuali tukang masak. Pelajaran yang saya dapat hari itu adalah tetap semua TERGANTUNG PEMIMPINNYA.
Dalam obrolan kami malam itu, sempat saya tanyakan bagaimana persiapan mereka melawan tuan rumah. Karena diakui atau tidak, ketika melawan tuan rumah tidak sama ketika melawan kesebelasan lainnya. Tapi jawaban Aji, membuat saya tercengang.  “Kalau orang lain punya pendapat akan dikerjai oleh wasit, pemain akan bermain kasar, penonton akan meneror, itu tidak akan terjadi. Sebab saya tahu siapa Fahry Husaini, siapa Erwin dan saya tahu siapa Tommy, intinya saya tahu siapa pemimpinnya. Tidak akan mungkin seperti kata orang”. Dan ternyata benar, keesokan sorenya, pertandingan berjalan lancar. Semua prediksi orang tidak terbukti. Permainan cantik, penonton tertib, tidak ada lemparan botol air mineral ke lapangan. Menerima kekalahan dengan lapang dada. Pelajaran ketiga yang saya dapat, masih sama TERGANTUNG PEMIMPINNYA.
Pelajaran berikutnya yang saya dapat, adalah ketika menjelang partai final. Strategi, usaha dan doa sudah mereka lakukan. Semangat kedaerahan juga sudah dikobarkan. Tapi menurut saya ada yang kurang. Saya tidak berani mengutarakan itu kesiapa saja, sebab saya tidak ingin mengganggu konsentrasi mereka. Saya dan Aji hanya bicara diantara kami berdua. Seandainya ada rangsangan lagi, pasti anak anak akan lebih semangat. Saat pertandingan final, keadaan dilapangan membuat kami terheran heran. Kenapa pemain bermain kesetanan, berlari tidak ada hentinya, mengejar sampai bola didapat. Dan akhirnya kemenangan diraih, emas didapat. Semua pertanyaan dibenak kami berdua semua terjawab saat kami berkumpul malam harinya. Ternyata itu semua karena ada janji dari pengurus, kalau emas dapat semua akan dapat sepeda motor keluaran baru. Masih tetap sama yang saya dapat hari itu, semuanya TERGANTUNG PEMIMPINNYA.
Ya ….  semuanya memang TERGANTUNG PEMIMPIN. Pemimpin yang merasa sama dengan yang dipimpin. Pemimpin yang tahu keinginan yang dipimpin, Pemimpin yang yang bisa memberikan contoh yang baik kepada yang dipimpin dan Pemimpin yang tahu kalau dia adalah seorang pemimpin.

Bahan RenunganAugust 9, 2008 4:36 am

Rani, sebut saja begitu namanya. Wanita ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi, sikap dan konsep dirinya sudah jelas yaitu meraih yang terbaik. ‘’Why not the best,'’ katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel'’, sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.

Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika karier Rani semakin meningkat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih Phd. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu daerah ke daerah yang lain, dari kota ke kota lain.

Setulusnya ada sebuah tanya, ‘’Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal?'’ Tapi dengan sigap Rani menjawab, ‘’Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'’ Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ‘’malaikat kecilku'’. Sungguh keluarga yang bahagia. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ‘’Alif ingin Bunda mandikan,'’ ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ‘’Bunda, mandikan aku!'’ kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

Sampai suatu sore, sang baby sitter menghubungi Rani . ‘’Bu, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.'’ Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setengah terbang, Rani ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ‘’Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'’ ucapnya lirih, di tengah suasana yang sunyi. Pelayat satu persatu menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Hening sejenak.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ‘’Aliiiff . . . . !'’ serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ‘’Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'’ Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

berikan mereka rumah untuk hatinya ………